Kamis, 24 September 2020

Sebuah Jurnal #34

 

Di Bawah Sinar Rmbulan

Malam hari di sebuah masjid tua

Dindingnya mulai rapuh

Warnanya memudar

Atapnya merekah

Karpet berdebu

Mikrofon jadul di atas mimbar kayu

Kemudian aku berjalan

Tepat di bawah cahaya rembulan

Sebab kubah masjid telah hilang

Dicuri seseorang

Sebab jika kubah masjid masih terpasang

Para pendoa  terhalang doanya

Karena itu masyarakat berbondong-bondong berdoa di masjid

Waktu dulu

Dan kemudian semua doa mereka terkabul

Hingga pada suatu saat

Mereka kehabisan apa yang harus didoakan

Hutang sudah lunas

Harta melimpah ruah

Rumah megah

Istri cantik solihah

Banyak anak

Masa depan cerah

Dan kemudian mereka tak lagi mau berdoa

Mereka merasa malu

Bagaimana mungkin hamba yang serba kecukupan masih saja meminta-minta

Bukankah itu bentuk rasa serakah?

Lagi pula hidup di dunia hanya sebentar

Buat apa banyak-banyak harta

Banyak-banyak anak

Banyak-banyak mobil mewah

Ujung-ujungnya mati hanya berkain kafan

Aku mengerti apa yang mereka omongkan

Tapi rasa-rasanya tak sejalan dengan tindakan

Apa mereka sudah diajarkan bagaimana cara menipu orang?

Saya rasa tidak

Bagaimana bisa mereka belajar menipu

Sedang hati mereka penuh rahmat Tuhan

Sedang apakah mereka?

Pagi siang malam di dalam rumah

Bahkan untuk sekedar belanja sayuran

Sholat berjamaah yang dulu sering mereka kerjakan

Apa yang membuat mereka betah seharian di rumah?

Anugerah nikmat dari Tuhan

Atau rasa puas tanpa batas

Sedang aku masih di bawah sinar rembulan

Berdoa seperti yang dulu mereka lakukan

Kemudian sujud

Berdoa semoga doa-doaku tak pernah sudah

Bojonegoro, 25 September 2020

2 komentar: