Semu
Rasa angkuh itu
Seperti serbuk mesiu
Meledak-ledak dalam
hulu
Tengelam dalam arus
sendu
Terkoyak oleh amukan
lindu
Terkapar di atas dadu
Merenung di bawah
cahaya lampu
Mengiris kalbu
Merakit sajak-sajak
rindu
Beralih ke masa lalu
Semu
Rasa angkuh itu
Seperti serbuk mesiu
Meledak-ledak dalam
hulu
Tengelam dalam arus
sendu
Terkoyak oleh amukan
lindu
Terkapar di atas dadu
Merenung di bawah
cahaya lampu
Mengiris kalbu
Merakit sajak-sajak
rindu
Beralih ke masa lalu
Rembulan Itu
Rembulan malam ini sayang
Indahnya tak pernah
terbayang
Langit hitam
Angkasa penuh gemintang
Dibawah remang-remang
cahaya rembulan
Aku dan kamu duduk
berhadapan
Aku memandangi raut
wajahmu sayang
Sumringah penuh gairah
Sebuah Surat
Sore itu
Angin bertiup kencang
Berputar-putar
Selembar surat ikut
berayun
Terbang melintasi
pepohonan rindang
Berhenti
Masuk ke dalam parit
Di
Bawah Sinar Rmbulan
Malam hari di sebuah masjid tua
Dindingnya mulai rapuh
Warnanya memudar
Atapnya merekah
Karpet berdebu
Mikrofon jadul di atas mimbar kayu
Kemudian aku berjalan
Suara Alam
Suara alam membuatku kembali tenang
Suara kemricik air mengalir
Derasnya sungai menghantam batuan pinggir kali
Suara burung murai berkicau diatas ranting
Suara dedaunan jatuh dari pohon
Suara jangkrik di malam hari
Sudut Masjid
Duduk bersandar pada tiang masjid
Diatas lembar sajadah
Dibawah atap beton
Masjid tanpa kubah
Rupa dinding warna coklat
Masjid itu nampak terbuka
Terbuka untuk siapa saja