Sabtu, 17 Oktober 2020

Sebuah Jurnal #37

 

Semu



Rasa angkuh itu

Seperti serbuk mesiu

Meledak-ledak dalam hulu

Tengelam dalam arus sendu

Terkoyak oleh amukan lindu

Terkapar di atas dadu

Merenung di bawah cahaya lampu

Mengiris kalbu

Merakit sajak-sajak rindu

Beralih ke masa lalu

Jumat, 02 Oktober 2020

Sebuah Jurnal #36

Rembulan Itu



Rembulan malam ini sayang

Indahnya tak pernah terbayang

Langit hitam

Angkasa penuh gemintang

Dibawah remang-remang cahaya rembulan

Aku dan kamu duduk berhadapan

Aku memandangi raut wajahmu sayang

Sumringah penuh gairah

Senin, 28 September 2020

Sebuah Jurnal #35

 

Sebuah Surat


Sore itu

Angin bertiup kencang

Berputar-putar

Selembar surat ikut berayun

Terbang melintasi pepohonan rindang

Berhenti

Masuk ke dalam parit

Kamis, 24 September 2020

Sebuah Jurnal #34

 

Di Bawah Sinar Rmbulan

Malam hari di sebuah masjid tua

Dindingnya mulai rapuh

Warnanya memudar

Atapnya merekah

Karpet berdebu

Mikrofon jadul di atas mimbar kayu

Kemudian aku berjalan

Selasa, 22 September 2020

Sebuah Jurnal #33

 

Suara Alam


Suara alam membuatku kembali tenang

Suara kemricik air mengalir

Derasnya sungai menghantam batuan pinggir kali

Suara burung murai berkicau diatas ranting

Suara dedaunan jatuh dari pohon

Suara jangkrik di malam hari

Sebuah Jurnal #32

 

 

Sudut Masjid

Duduk bersandar pada tiang masjid

Diatas lembar sajadah

Dibawah atap beton

Masjid tanpa kubah

Rupa dinding warna coklat

Masjid itu nampak terbuka

Terbuka untuk siapa saja

Selasa, 11 Agustus 2020

Sebuah Jurnal #31

Negarawan


Dok. Pribadi
Getir darah mengalir

Tombak bambu runcing di ujung kelingking

Kepala terbentur cita-cita dan harapan bangsa

Memutar otak berbuat sekuat daya

Pikiran dipaksa bekerja dibawah todongan senjata

Tinta air mata menggores cerita dan makna

Menuliskan pada lembar sejarah bangsa