Senin, 05 April 2021

Sebuah Jurnal #46

 Kakek Tua Tunanetra



duduk bersila di depan gereja

di sampingku ada seorang kakek tua tunanetra

aku sama sekali tak mengajaknya bicara

ia nampaknya enggan enggan untuk bicara

sibuk dengan merapal mantra

kuperhatikan sejak pagi dini hari

kedua tangannya menengadah ke langit

dilihat dari caran dia berdoa bisa disangka ia orang islam yang taat

tetapi kemudian aku berubah pikiran

setelah kudengarkan dengan seksama apa yang ia baca

bisa disangka ia orang tiong hoa

Kamis, 18 Maret 2021

Sebuah Jurnal #45

                                                                        Bunyi Musik

Suara terompet adalah lengkingan merdu para pencopet

Degub rebana adalah detak jantung para ulama

Untaian senara gitar adalah lambaian tangan pendeta di dalam gereja

Lembut suara biola adalah empasan peluru tentara bersenjata

Ketukan tuts piano adalah entakan para penguasa kala sedang murka

Sabtu, 23 Januari 2021

Sebuah Jurnal #44

 

Hari yang Dingin



Tiap pagi hari udara terasa dingin

Tubuhku serasa membeku

Pikiranku tak seluas yang dulu

Hanya berkutat di ruangan kecil kamarku

Setumpuk buku

Atau sebuah telepon cerdas

Berbaring di atas ranjang

Kemudian bangkit

Belajar dari pagi sampai siang

Sedang di sore hari

Senin, 23 November 2020

Sebuah Jurnal #43

 

Sepintas


Hanya sepintas

Aku melihat sesosok gadis berparas

Rambutnya tergerai lemas  

Kakinya tak beralas

Senyumnya manis melukis kanvas

Sedang aku duduk disini menyedu kopi panas

Akhir-akhir ini hariku semakin buas

Rabu, 18 November 2020

Sebuah Jurnal #42

 

Rindu Kamu


Lembayungku jatuh

Diterpa angin ribut

Hujan turun

Melempar embun

Sepintas aku rindu

Kamu

 

Di ujung malam

Aku sembahyang

Merapal mantra dan doa

Untuk kebahagianmu

Kamis, 05 November 2020

Sebuah Jurnal #41

 

Gitar


Senar gitar dipetik

Aku mendengar ratusan leher di cekik

Dawai lagu mulai diayun

Aku melihat puluhan keranda datang berduyun-duyun

Nada-nada bergerak  ke atas dan kebawah

Rabu, 04 November 2020

Sebuah Jurnal #40

 

Ruang Rindu


Di dalam ruang rindu

Kita duduk

Berdua saja

Aku menatap binar matamu

Sedang kau duduk terdiam

Wajahmu terbalut manis

Menahan senyum

Melukis lesung