Kamis, 13 Februari 2020

Sebuah Jurnal #04


Ada, Tapi Tak Berdaya
From Google
Binar matamu
Menggerus hatiku
Dekap langkahmu
Menggetarkan hatiku
Tajam sorot matamu
Membuatku malu
Mimik wajahmu
Membuatku jadi tersedu
Sabda agungmu
Menundukkan hatiku
Ayunan tanganmu
Melunakkan hatiku
Dentuman ayat quran yang kau bacakan
Seketika membuatku tersungkur
Terperosok kedalam lubang penyesalan
Menginsyafi kenyataan
Meratapi tindakan demi tindakan
Berjuang mati-matian
Berharap mendapat ampunan
Dan pasrah pada sang takdir
Mau dikemanakan jiwa ini
Mau dibuang kemana jasad ini
Aku hanya bisa pasrah
Kembali menjejaki langkah sang kyai
Manut pada dawuh yai
Semoga saja Tuhan pun merestui
Jejak langkah yang tersesatkan
Pikiran yang berarak, melayang entah kemana
Bergerak liar dan brutal
Menggilas segala yang ada
Menguras darah dan harta
Kepuasan yang semu jadi tujuannya
Kemudian hati menjadi hampa
Membabi buta
Menyalahkan pihak mana saja
Mengklaim kebenaran mutlak hanya miliknya
Kemudian mulut terbungkam
Tak bisa lagi berceloteh  
Badan meringkih
Tubuh tak lagi sanggup berdiri tegap
Lemas tak berdaya
Tubuh hanya bisa terbaring lemas di atas ranjang
Hanya mata memandang kiri dan kekanan
Manusia yang dulu dibangga-banggakan
Kini hanya bisa terbaring lemas di atas ranjang
Ada, tapi tak berdaya
Bojonegoro, 13 Pebruari 2020
Ahmad Choirul Annas




2 komentar: