Kamis, 27 Februari 2020

Sebuah Jurnal #11


Uluran Tangan


From Google
Komedo tumbuh subur di hidungku
Benalu berakar lebat di wajahku
Lumut hati menutupi kiruput wajahku
Reremputan ilalang di atas pundakku
Bunga mawar tumbuh di kedua telingaku
Semak belukar tumbuh rimbun di dadaku
Pepohonan rindang tumbuh lebat di punggungku
Kau kira aku ini siapa
Pahlawan seperti robin hood
Penyair seperti gus mus
Atau seorang pengecut sepertimu
Doa doa yang mengambang
Permintaan yang tak kunjung di kabulkan
Revolusi yang berhenti cukup sebagai bualan
Hingar bingar demokrasi yang tak sampai hati
melanggah ke depan tanpa sepucuk uang
Kebebasan yang tiada terkira
merombak habis tatanan Negara
Yang muda katanya yang berkarya
Yang tua mengalah saja
Hengkang dari tahta
Menuju rakyat jelata
Kau dan aku sama saja
Sama sama pengecut
Sama sama pecundang
Hanya saja kau tak mengakuinya
Sedang aku tiap hari berdzikir
Aku ini pengecut,
Aku ini pecundang
Hingga umurku di ujung senja
Tak satupun cita terlaksana
Rasanya hidup ini tak bermakna
Hambar sama sekali tak berasa
Diri yang tak berdaya
Pikiran yang jauh dari kata bijaksana
Tindakan yang jauh dari kata sempurna
Entah apa yang bisa membuatku tersadar
Entah kapan
Dan entah siapa yang rela hati
mengulurkan tangan
Bojonegoro, 27 Pebruari 2020
Ahmad Choirul Annas



1 komentar: